Bagi kita yang tinggal di Kota Gorontalo mungkin tidak aneh dengan kesemrawutan di Kota. Mulai jalanan yang mulai macet oleh kenderaan hingga urban sprawl dengan model perembetan memanjang (ribbon development). Warga seperti terperangkap dengan kondisi kota tanpa merasa ada kenyamanan yang mulai hilang. Individu  memang kadang bersikap irasional. Warga terperangkap dengan kondisi nyaman sebelumnya yang mereka alami bertahun-tahun silam dan akan selalu merujuk pada  kondisi itu (reference point). Fakta ini menggambarkan adanya status quo bias dimana individu enggan melepas bayangan sebelumnya karena khawatir tidak menemukan hal yang sama di masa datang.    Memang, apa yang dialami warga Gorontalo tidak separah yang dialami warga Jakata. Di kota ini kemacetan sudah memasuki tahap yang sangat serius. Menurut survey Castrol Magnatec Stop-Start Index, Jakarta sekarang menempati posisi kota termacet di dunia disusul Istambul, Mexico City dan Surabaya pada posisi ke empat.  Menjadi pertanyaan, apakah setelah memiliki predikat kota macet dan kumuh baru kita mulai berbenah?

Trend perkembangan sebuah kota menarik diperhatikan tidak hanya dari perkembangan fisiknya namun juga dinamika pertumbuhan populasi yang terus melonjak. Berdasarkan Revision of World Urbanization Prospects yang dirilis PBB pada 2014 saat ini 54 persen penduduk tinggal di perkotaan. Jumlah tersebut bahkan akan meningkat menjadi 80 persen di tahun 2050. Di Indonesia lonjakan penduduk perkotaan terjadi setelah tahun 1990 dari 31% menjadi sekitar 53% pada tahun 2014 dengan rata-rata pertumbuhan penduduk pertahunnya 1.5%. Berbeda dengan Kota Gorontalo, meskipun populasinya kecil namun petumbuhan penduduknya justeru 2 kali lipat rata-rata nasional. Data RPJMD Kota Gorontalo 2014-2019 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk Kota Gorontalo  dari 165.175 jiwa tahun 2008 menjadi 190.492 jiwa tahun 2013, dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 3,35% . Kalau dimodelkan secara dinamis dengan skenario bussines as usual (BAU), maka populasi penduduk kota akan meningkat sangat tajam di masa yang datang baik karena faktor kelahiran maupun karena urbanisasi. Dari gambaran ini, tentu kondisi status quo bias akan merepotkan kita semua. Dimana letak kerepotanya?

Isu utama perkembangan sebuah kota selain populasi juga terkait ketersediaan lahan. Bagi kota kecil berukuran 79.03 km2 yang terbagi dalam 9 kecamatan dan 50 kelurahan ini, permasalahan lahan tentu menjadi isu krusial. Kota Gorontalo memiliki potensi lahan basah seluas ± 916 Ha dan lahan kering seluas ± 898 Ha. Lahan yang tidak luas ini mengalami konversi (alih fungsi) karena kebutuhan akan ruang. Faktor economic rent mendorong para pemilik menjual sawahnya yang kemudian beralih fungsi menjadi peruntukan lain terutama pemukiman dan perkantoran. Ini tentu sangat mengkhawatirkan. Secara topografis, Kota Gorontalo berada pada dataran rendah berupa cekungan dan menjadi daerah hilir DAS Limboto-Bolango-Bone. Alih fungsi lahan tidak hanya merusak estetika kota namun lebih parah dari itu adalah hilangnya kawasan resapan bagi aliran air dari daerah hulu (upland areas). Pengalaman banjir tahunan hingga 5 tahunan yang terjadi belakangan ini seharusnya menjadikan kita paham bahwa isu krusial kota di masa datang mungkin akan lebih parah dari itu. Pemerintah bukan tidak melakukan sesuatu. Berbagai kebijakan mulai dari PERDA alih fungsi lahan hingga pengetatan perijinan diberlakukan. Tapi semua itu tidak di-capture dengan baik di tingkat lapangan (dead weigh loss). Perubahan wajah dan ekosistim kota terus berlanjut tanpa mempertimbangkan faktor environmental rent-nya. Akibatnya, walaupun bukan banjir, genangan-genangan air masih sering ditemukan di beberapa pojok kota saat hujan turun. Teori prospek mengatakan bahwa reaksi individu terhadap suatu rangsangan akan lebih sensitif apabila individu tersebut merasa dirugikan dibanding ketika individu tersebut sedang merasa diuntungkan (loss and gain). Apakah kita perlu mengalami bencana yang lebih parah baru mulai melakukan perubahan drastis?

 

Kota Gorontalo Baru

Menawarkan perubahan bukan semata memulai langkah-langkah operasional taktis, tapi lebih pada dimulainya pola pandang dan cara berfikir. Individu cenderung berfikir rasional tapi memiliki hambatan kognitif dalam mengolah informasi (bounded rationality). Ekonomi perilaku mendorong tumbuhnya cara berfikir yang rasional  berdasarkan kenyataan yang ada. Pada umumnya pengembangan sebuah kota dikelola dengan pendekatan resource based theory dimana produktivitas menjadi tujuan utamanya. Akibatnya individu cenderung memperlihatkan perilaku seakan berlomba terlebih saat pilihan penggunaan sumberdaya beragam dan melimpah (choice overload). Perlombaan ini terutama dalam rangka mengejar kepentingan ekonomi. Alih fungsi lahan, kemacetan dan sarana ekonomi yang menjamur  merupakan contoh yang baik tentang ini. Namun, individu tidak hanya memerlukan kesejahteraan ekonom dan peningkatan pendapatan seperti yang dipahami umum dalam teori ekonomi konvensional. Warga kota juga membutuhkan hal lain dari sekedar berbuat sesuatu yang benar, hidup dengan reputasi yang baik hingga berusaha menyenangkan teman dan tetangga. Ini sangat relevan dengan kondisi sosiologis warga Kota Gorontalo yang kohesitas sosialnya tinggi. Maka melakukan perubahan manajemen bagi kota Gorontalo perlu dimulai dengan merubah sudut pandang ini. Warga Kota Gorontalo tidak sekedar butuh materi namun juga keseimbangan sosial dan lingkungan sebagai wahan berinteraksi bagi kehidupannya. Karenanya, menjadi sebuah keniscayaan mengembangkan Kota Gorontalo menuju kota baru berkelanjutan.

Tidaklah sulut memahami konsep kota berkelanjutan. Sederhananya, kota berkelanjutan adalah kota yang mengedepankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan hidup. Keseimbangan ini penting untuk menjamin adanya keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia, tanpa mengurangi peluang generasi yang akan datang untuk menikmati kondisi yang sama. Membangun kota baru berkelanjutan sangat krusial bagi Kota Gorontalo. Pengembangan kota Gorontalo baru berkelanjutan akan meminimalisir dampak menurunnya kondisi dan daya dukung kawasan lama Kota Gorontalo sekaligus merubah wajah Kota menjadi lebih estetik. Untuk maksud itu dibutuhkan cara berfikir di luar pakem (out of the box).  Pada tahun 1850-1928 pasca revolusi industri Ebenezer Howard menggagas konsep Garden City sebagai reaksinya terhadap keadaan Kota London yang padat dan menurun kualitas lingkungannya.  Dibutuhkan upaya keras pada masa itu untuk merealisasikan mimpi Howard yang akhirnya bisa merubah wajah Kota London menjadi kota modern seperti sekarang ini.Upaya Howard merefleksikan kesadaran tentang kota berkelanjutan. 

Kota Gorontalo sesungguhnya merefleksikan wajah dua peradaban yaitu masa lalu (leluhur) dan masa datang (modern). Wajah tua kota Gorontalo dicirikan oleh predikat daerah adat yang bersimbolkan adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah. Maka mempertahankan kota tua merupakan sebuah keharusan. Analisis spasial yang dilakukan, kota tua ini mencakup luasan ruang sebesar 9,56 ha dengan elevasi 15 meter. Zona kota tua ini meliputi sebagian Kecamatan Kota Selatan, utamanya di Kelurahan Tenda. Wilayah ini memiliki beberapa ornamen kota tua seperti rumah atau gedung peninggalan sejarah. Dalam konsep kota baru, zona kota tua ini perlu dipertahankan dan dikembangkan agar menjadi obyek wisata budaya. Untuk itu diperlukan penataan antara lain seperti penambahan beberapa ornamen budaya seperti bangunan Walima yang bisa di modifikasi sebagai pintu gerbang. Mempertahankan bangunan tua bersejarah harus dilakukan. Sebagian bangunan tersebut dapat dijadikan sebagai tempat display berbagai cerita sejarah Gorontalo termasuk berbagai peninggalan kerajaan-kerajaan (linula) di Gorontalo, alat musik tradisional, kerajinan khas, dan lain-lain.

Kota modern Gorontalo diposisikan menghadap Teluk Tomini (sea front city). Pengembangan kota modern tidak hanya dari sisi infrasktrur kota namun juga terkait fasilitas kenyamanan hidup warga seperti keberadaan ruang publik dan RTH dan sarana prasarana sebuah kota umumnya. Sejatinya, pembangunan kota baru adalah upaya pengembangan suatu ‘bagian wilayah baru’ atau suatu “kota kecil” menjadi suatu kawasan pemukiman yang mempunyai kelengkapan perkotaan. Namun dalam konteks Gorontalo, konsep kota baru ini ditandai oleh keseimbangan pembangunan ekonomi, sosial budaya dan lingkungan dengan pendekatan pengelolaan yang terpadu (integrated management). Dalam analisis spasial, kawasan kota baru meliputi kawasan selatan kota yang batasnya memanjang sepanjang garis pantai Teluk Tomini dengan luas sekitar 314,96 ha dengan elevasi 75  - 275 m. (lihat ilustrasi peta)

Dalam konsep spasial ini, kawasan kota baru ini terdiri dari areal pengembangan infrastruktur pemukiman dan perkantoran, pengembangan RTH, kawasan terpadu kuliner lokal hingga zona pariwisata bahari. Penataan pemukiman yang sudah ada menjadi satu kesatuan dalam rencana pengembangan. Ini mencakup penataan perumahan penduduk dan fasilitas pemukiman seperti perbaikan sistim drainase dan sarana prasarana lainnya. Perumahan penduduk di sepanjang Sungai Bone perlu ditata agar tidak lagi membelakangi sungai yang hanya menjadikan Sungai Bone sebagai halaman belakang dan tempat pembuangan sampah. Demikian halnya pemukiman di Kelurahan Pohe dan Leato yang di tata dan dikembangkan sebagai homestay menarik. Hal lainnya termasuk  penataan berbagai kegiatan ekonomi di muara Sungai Bone seperti aktivitas kepelabuhanan, TPI dan Depo Pertamina. Secara pemodelan spasial dinamis, pengelolaan terpadu atas kawasan ini melahirkan skenario-skenario pembangunan yang berkelanjutan. Analisis spasial ini perlu ditindaklanjuti dengan analisis multidisplin keilmuan seperti ilmu geologi untuk memastikan kondisi geologi termasuk rekayasa engineering untuk kestabilan struktur tanah, ilmu biologi untuk melihat pengaruh terhadap biota dan kerangka biodiversity, ilmu oseanografi terkait kondisi fisika kimia perairan, ilmu sosial ekonomi untuk mengkaji skenario pertumbuhan dan ekonomi dan aspek sosial masyarakat dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Kita dan warga kota umumnya mungkin mengacu pada kondisi awal (reference point) dimana kawasan lama Kota Gorontalo masih merupakan tempat yang baik untuk tinggal dan menganggap pengembangan kawasan kota  baru belum perlu atau tidak penting. Cara pandang status quo bias ini perlu segera dibenahi. Dinamkia pembangunan di Provinsi Gorontalo sangat berdampak terhadap kondisi ekonomi, sosial dan ekologi Kota Gorontalo. Kesemrawutan dan kekumuhan bukan satu-satunya faktor kekhawatiran yang mendorong perlunya perubahan pola pandang ini, namun potensi ancaman akibat bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi melanda Kota Gorontalo. Cara pandang lama yang bussines as usual dan status quo bias harus dirubah menjadi sebuah mimpi yang realistis dan bisa dieksekusi menuju wajah kota Gorontalo baru yang produktif secara ekonomi, kondusif secara sosial dalam ekologi yang terawat.

 

 

 

Aryanto Husain

*Kabid Litbang Smansa88

*Koord. FKTI Prov. Gtlo

*Ketua ICMI Orda Kota Gtlo

Add comment


Security code
Refresh