“Limbah Merkuri di Teluk Gorontalo”

        BENCANA MANUSIA DI MASA DATANG

Oleh : Delyuzar Ilahude

 

 Secara geografis perairan Gorontalo dan sekitarnya termasuk dalam katagori perairan semi tertutup. Kedalaman perairan di Teluk Tomini Gorontalo mencapai 4000 meter, dan memiliki ribuan fasies terumbu karang yang menjadi kebanggaan tersendiri di sektor wisata bahari terutama di pantai Olele.  Tipe pantainya yang bertebing curam dengan elevasi lereng pantai kurang lebih 45 derajat. Hampir di sepanjang pantai, ditempati oleh aneka ragam jenis terumbu karang. Padatnya terumbu karang di perairan ini menjadi hunian dan berkembang biaknya aneka ragam biota laut. Sementara di wilayah bagian tenggara dan timurlaut Teluk Tomini adalah perairan Laut Maluku yang merupakan tempat migrasinya ikan pelagis (tuna). Ikan pelagis seperti ikan tuna tidak akan mencari makan hingga ke dasar laut yang dalamnya mencapai 4000 meter. Suatu kelebihan di perairan Teluk Gorontalo terdapat arus global bergerak secara horisontal maupun vertikal (upwelling) yang membawa nutrient/plankton dari dasar laut sehingga sangat  mengundang migrasi ikan ke wilayah tersebut. Arus ini yang memegang peran untuk mendistribusikan nutrien dari bawah ke atas serta mengendalikan salinitas (kadar garam) air laut. Akan tetapi akibat pencemaran limbah logam berat (merkuri) di perairan Gorontalo,  dikawatirkan telah terjadi gangguan ekosistem habitat biota laut yang menjadi bahan makanan bagi ikan pelagis. Faktor lain yang ikut berpengaruh terhadap populasi biota laut yaitu pasokan sedimen lumpur pada saat musim hujan. Curah hujan yang tinggi di Gorontalo yang menyebabkan terjadinya penurunan salinitas di perairan tersebut. Kondisi ini terlihat dari data BMKG Gorontalo yang grafik curah hujan bulanannya rata-rata dalam lima tahun sekitar 111 sampai 420 milimeter yaitu pada bulan Desember hingga bulan April. Sedangkan pada bulan lainnya berkisar antara 66 sampai dengan 103 milimeter. Curah hujan maksimum selama periode lima tahun umumnya lebih dari 201 milimeter, sedangkan curah hujan maksimum normal terjadi pada bulan Januari.  Curah hujan yang tinggi di daerah hulu akan mengakibatkan banjir dan banyak memasok logam berat ke sungai Bone hingga bermuara ke laut.  Muara Sungai Bone dan beberapa muara sungai besar yang bermuara di Teluk Tomini Gorontalo umumnya bermuatan limbah logam berat dari aktivitas penambangan di daerah hulu.  Limbah logam berat yang yang teridentifikasi antara lain adalah merkuri, sianida dan sulfida. Sianida adalah senyawa kimia yang terdiri dari 3 buah atom karbon yang berikatan dengan atom hidrogen. Senyawa ini terdapat dalam bentuk gas, liquid dan solid, yang dapat melepaskan anion CN- yang sangat beracun. Sianida dapat terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia dan memiliki sifat racun yang sangat kuat dan bekerja dengan cepat. Contohnya adalah HCN (hidrogen sianida) dan KCN (kalium sianida). Banyak sianida di lapisan tanah atau air berasal dari proses pabrik, serta fasilitas pengolahan air limbah publik. Sumber terbesarnya yaitu aliran buangan dari proses ekstraksi emas dari batuan di lokasi penambangan.  Sementara sulfida bila terlarut dalam air akan bersifat asam dan larutan ini sangat berbahaya bagi manusia dan jika mengalir ke laut maka biasanya biota laut tidak akan bertahan lama dan cenderung akan bermigrasi. Demikian juga berkurangnya oksigen dalam air akan berakibat menurunnya laju metabolisme pada biota air yang akhirnya dapat berdampak pada kepunahan jenis-jenis ikan di sungai. Semakin berkurangnya kadar oksigen dalam air sungai menyebabkan penurunan populasi ikan-ikan kecil di daerah muara (estuari) seperti nike, yang merupakan sumber pakan utama bagi ikan pelagis dan juga tuna dan jenis biota laut lainnya. Penurunan kadar oksigen dapat disebabkan beberapa hal diantaranya pencemaran limbah dari penambang dan pabrik yang membuang limbahnya ke sungai, limbah rumah tangga seperti deterjen ataupun tumbuhan gulma akibat dari sedimentasi yang tinggi.

Disinyalir nilai parameter pH dan oksigen terlarut (DO) di Sungai Bone, Bolango dan beberapa sungai di Marisa dan Pohuato sangat rendah. Ini akan sangat berpengaruh pada penurunan biota air sungai maupun biota laut di pesisir Teluk Tomini, sehingga populasi ikan karang yang menjadi sumber makanan ikan pelagis cenderung berkurang akibat kualitas air yang rendah. Rusaknya DAS di daerah Kabupaten Gorut, Pohuato, Marisa dan Sungai Bone di bagian hulu akan menjadi pemicu menurunnya populasi biota laut di pesisir perairan Gorontalo dan migrasinya ikan pelagis. Kondisi ini berdampak pada penurunan hasil tangkapan ikan oleh para nelayan di perairan Gorontalo yang konon belakangan ini pendapatan hasil lautnya cenderung berkurang. Hal inilah yang menjadi masalah yang tidak diketahui oleh para nelayan di Gorontalo.

 

Bencana Di masa Datang

 

Faktor penambangan liar (PETI) tanpa pengawasan dari Pemda setempat akan  memperparah kondisi ekosistem di daerah hulu yang berakibat fatal bagi kehidupan mahluk hidup di masa datang terutama di daerah kabupaten dan kota. Saat ini endapan sedimen di muara-muara sungai di Kabupaten dan Kota Gorontalo telah membentuk delta di muara Sungai Bone. Kondisi ini cukup menghawatirkan karena faktor pendangkalan. Pasokan lumpur yang bermuatan limbah merkuri tersebut pada musim hujan makin meningkat dan tanpa disadari makin meluas. Luapan lumpur pada musim hujan akan berpengaruh pada penurunan salinitas yang berdampak menurunnya populasi ikan di laut.  

    Jika di lihat dari data dinamika arus global di perairan Teluk Gorontalo, perairan Teluk Gorontalo merupakan zona pergerakan arus vertikal (upwelling) yang menjadi incaran migrasi ikan karena banyak membawa nutrien atau plankton. Disampinng itu daerah Teluk Tomini di lewati arus global yang dikenal dengan Arlindo (Arus Lintas Indonesia) yaitu arus yang membawa massa air dingin bergerak dari wilayah lintang tinggi (kutub utara) menuju equator.  Arus ini mengalir secara horizontal dari Samudera Pasifik masuk lewat Laut Sulawesi, sebagian menerus ke Selat Makasar, sebagian masuk Laut Maluku (Teluk Tomini), Laut Banda dan Teluk Gorontalo.  Salah satu indikasi banyaknya makanan (nutrien/plankton) yang masuk ke Teluk Tomini Gorontalo dibuktikan dengan adanya koloni hiu paus yang terjebak di Teluk Gorontalo. Hiu paus ini  mengejar makanannya berupa plankton, bukan mengejar limbah udang dari industri ikan di Botu Barani. Limbah udang bukan makanan utamanya, oleh sebab itu dengan banyaknya para pengunjung yang memberi makanan berupa limbah udang, maka bukan tidak mungkin hiu paus tersebut akan mati akibat perubahan proses metabolisme. Dengan terdapatnya aliran arus yang membawa nutrien ke Teluk Tomini, maka seharusnya perairan Teluk Tomini kaya akan ikan. Namun hal ini tidak demikian, oleh sebab itu menjadi pertanyaan besar mengapa terjadi penurunan tangkapan ikan oleh nelayan tradisional di perairan Gorontalo ?. Kasus inilah yang perlu perhatian, apa yang menyebabkan produksi ikan dari nelayan tradisional di Gorontalo menurun ?. Oleh sebab itu harus ada perhatian dari instansi yang terkait untuk memantau fenomena ini. Bukan tidak mungkin faktor tersebut disebabkan oleh peningkatan pasokan limbah logam berat (merkuri, sianida) yang bermuara ke laut semakin tinggi.  Pasokan limbah logam berat tersebut  cenderung meningkat pada musim hujan. Kondisi ini didukung oleh hasil penelitian Balai Lingkungan Hidup, Riset, dan Teknologi Informasi Provinsi Gorontalo tahun 2010, yang mana kandungan merkuri pada bagian hulu hingga hilir sungai sudah mendekati ambang baku mutu sebesar 0,002 miligram per liter (mg/l). Sementara untuk kebutuhan oksigen biologis (biochemical oxygen demand/BOD) dan oksigen terlarut dalam air (dissolved oxygen/DO) di seluruh bagian sungai sudah melebih ambang batas. Artinya, air di sungai tersebut sudah tidak layak dikonsumsi.

Dari hasil penelitian tersebut, pada bagian hulu Sungai Bone kandungan merkuri mencapai 0,0015 mg/l. Sementara pada bagian tengah dan hilir masing-masing mengandung merkuri sebanyak 0,0010 dan 0,0011 mg/l. Agar air sungai layak dikonsumsi masarakat maka kandungan merkuri di dalam air tidak boleh melebih 0,002 mg/l.  

Oleh sebab itu menjadi pertanyaan juga, kenapa ikan hiu paus di teluk Gorontalo tidak mencari plankton yang seharusnya menjadi makanan utamanya ? Bahkan sekarang hiu paus itu semakin berkurang keberadaannya. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kontaminasi limbah merkuri dan sianida yang di suplay dari  muara Sungai  Bone dan Sungai Bolango. 

Dengan demikian sangat diharapkan kepedulian dari pemerintah daerah untuk mengontrol kegiatan penambangan di daerah hulu sungai terutama di kawasan barat Gorontalo dan di kawasan timur Bone Bolango. Jika terjadi pembiaran terhadap aktifitas pengolahan biji emas yang tidak memenuhi standard maka tidak menutup kemungkinan pasokan limbah ke laut akan menjadi malapetaka di masa datang bagi masarakat yang mengkonsumsi ikan di Gorontalo. Indikator yang telah menjadi kenyataan saat ini adalah hasil tangkapan dari para nelayan tradisional cenderung menurun. Diduga fenomena migrasi ikan tuna  ke arah Laut Maluku, boleh jadi disebabkan oleh faktor pasokan lumpur dari hulu sungai yang bermuatan limbah logam berat yang mengkibatkan kondisi air laut di perairan Gorontalo yang semakin memburuk.

Wassalam

Penulis alumni 1974, sekarang menjabat sebagai peneliti di Kementerian ESDM Bandung

 

 

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh